Kisah Pohon dan Seseorang di Tepi Jalan
Haiiii, Assalamualaikumm temen-temen...
balik lagi dengan saya, si pencerita kisah klasik. wkkw apaan lah.
btw kan, saya mau nunjukin satu puisi karangan saya. Puisi ini awalnya tercipta bukan karena keinginan sayaa. tapiii, karena seorang teman saya yang meminta buatin puisi untuk project tugasnya tentang pohon yang ada ditepi jalanan kota Medan ini. eitsss jangan kepoo..
langsung aja dahh dibacaaa...
balik lagi dengan saya, si pencerita kisah klasik. wkkw apaan lah.
btw kan, saya mau nunjukin satu puisi karangan saya. Puisi ini awalnya tercipta bukan karena keinginan sayaa. tapiii, karena seorang teman saya yang meminta buatin puisi untuk project tugasnya tentang pohon yang ada ditepi jalanan kota Medan ini. eitsss jangan kepoo..
langsung aja dahh dibacaaa...
AKU DAN TUAN
by : Amalia Rizki Sitorus
Aku
hanyalah pepohonan rindang ditepi jalan
Menemani
perjalanan singkatmu
Perantara
angin yang menghampiri tubuhmu
Dan,
esoknyaa
menjadi
penanti embun pagi mu.
Agar?
Agar apa
kau tanya?
Agar
hari mu tak membosankan..
Bukannya
kau bosan dengan teriknya matahari yang menyengat kulitmu?
Bukannya
kau bosan dengan suara klakson yang terdengar keras ditelingamu?
Lalu?
Bukannya
aku pemberi oksigen terbaikmu?
Iyaaa....
Iya kau
bilang?
Tapi
kenyataannya…
Takdir
tak berpihak padaku disini.
Awalnya teman-teman
ku yang hilang
Ku
hitung satu, lima, duaa...
Hitunganmu salahh...
Kuhitung
ulang lagi kemudian
Tigaa,
duaa, satuu...
Lihatlah
Satu
persatu mereka pergi...
Entah
kapan giliranku..
siapa?
Siapa
penghancur itu?
Tangan
tangan tak bertanggung jawab itu.
Jiwa-jiwa
kejam, hitam…
Meraka
menghabiskan teman-teman ku.
Lalu aku
menyendiri ditengah kota gersang bertuan ini.
Tolong
bantu aku Tuan.
kau yang
miliki negeri inii...
Buat aku
tak sendiri di kotamuu...
Lepaskan
aku dari benda tajam yang semakin hari semakin menyakitkan tubuhku
Luka-luka
itu..
Sungguh
menyakitkan, Tuan.
Benda apa itu?
Tak
paham apa itu...
Tapi
Benda
bertuliskan “wanted” menjadi penyebab
kulitku terluka
Tuan nasib
malang ku ini ditanganmu..
Aku
ingin kembali dimasa ku dulu
Masa dimana
aku bisa berdiri tegap menghiasi jalanan panjang milik kalian
Menikmati
suara deruh angin yang menggoyangkan tubuhku
Dan
Memiliki
suara tawa riang teman-teman ku..
Tuan.
Jika kau
acuhh juga
Bisa kah
kita berganti peran?
Kau
berdiri sendirian di jalanan tak mengasyikan ini
Tubuhmu
dihancurkan secara perlahan.
Tak mau
bukan?
Tuan
jangan berdiam diri disitu..
Melangkahla
membantuku
Kembalikan
peranku sesungguhnya
Tuan
Aku
meminta padamu..
Bukan
karna ku tak sanggup menghadapi..
Namun...
Hanya
uluran tanganmu yang membebaskan ku dari kejamnya kota mu ini.
Wah sangat indah artikel yang kamu post, saya sangat suka membacanya ๐๐๐
BalasHapusBagus sekali puisi nya amal. Menyentuh karena mengangkat fenomena manusia saat ini. Terimakasih juga sudah mengingatkan amaliaa.
BalasHapusSangat bagus artikelnya, saya sukaa๐
BalasHapusPuisinya baguss amaliaa๐
BalasHapusditunggu postingan selanjutnya..
Puisinya baguss amaliaa๐
BalasHapusditunggu postingan selanjutnya..
Bagus Amaaaal
BalasHapusBagus Amaaaal
BalasHapusMantappp kalii puisinyaaa ๐
BalasHapusPuisinua sangat bagus ๐๐ผ saya tunggu puisi selanjutnya
BalasHapusPuisinya bagus. Sarat akan makna. Saya suka. Sering2 ya Amalia
BalasHapusSangat menyentuh,mantapp
BalasHapusMenyentuh ;( jd baper
BalasHapusNiceeee
BalasHapusTernyata amal punya bakat buat puisi. Kereenn
BalasHapusBaguus puisinyaaaa amaal
BalasHapusTidak menyangka bisa se-melo itu
BalasHapus